ENGLISH

Home

About NA-DFC

INDONESIA 

Halaman Utama

Tentang Badan POM
    BADAN POM
Berita Aktual
Siaran Pers/Peringatan Publik
Peraturan
Brosur
Publikasi
    KOMODITI
Reformasi Birokrasi 
e-Registrasi 
Notifikasi Kosmetik Online
Daftar Antrian Elektronik
Produk Obat dan Produk Biologi
Produk OT, SM dan Kosmetik
Produk Pangan
ULPK
Informasi Obat
Informasi Keracunan
Obat Bahan Alam Ind
Sistem Keamanan Pangan Terpadu
    SPECIAL INTEREST
Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE)
Pengumuman Pengadaan Barang dan Jasa
Balai Besar / Balai POM
e-bpom - NSW
Perpustakaan
Web Mail BPOM
e-rekrutmen Badan POM
 
::  | |

 
 

PENATAAN ORGANISASI DAN TATALAKSANA


Definisi organisasi menurut Kast dan Rosenzweig adalah sub sistem teknik, sub sistem struktural, sub sistem psikososial dan sub sistem manajerial dari lingkungan yang lebih luas dimana ada kumpulan orang-orang berorientasi pada tujuan bersama. Untuk mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan bukan hanya dibutuhkan kepiawaian manajemen tetapi juga organisasi yang kuat. Teori Organisasi Modern melihat bahwa semua unsur organisasi sebagai satu kesatuan yang saling bergantung dan tidak bisa dipisahkan. Organisasi bukan sistem tertutup yang berkaitan dengan lingkungan yang stabil akan tetapi organisasi merupakan sistem terbuka yang berkaitan dengan lingkungan dan apabila ingin dapat bertahan hidup (kuat) maka organisasi harus bisa beradaptasi dengan lingkungan.

Aspek internal organisasi terdiri dari strategi, struktur, sistem, motivasi SDM, gaya kepemimpinan serta budaya kerja. Strategi suatu organisasi dapat didefinisikan sebagai rencana aksi untuk mewujudkan tujuan organisasi dengan sumber daya yang tersedia.

Struktur suatu organisasi dapat didefinisikan sebagai pembagian tugas, tanggungjawab dan kewenangan serta cara koordinasi kegiatan di antara unit kerja. Sistem terdiri dari proses-proses internal yang mengatur cara organisasi berfungsi/beroperasi. Perilaku SDM adalah hasil dari suatu proses rumit dimana sifat pribadi dipadukan atau diadaptasikan pada organisasi dan lingkungannya. Kemampuan SDM untuk dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik dalam organisai sangat ditentukan oleh keseimbangan dan integrasi yang baik dari dua faktor yaitu organisasi/lingkungan dan kepribadian. Gaya kepemimpinan diuraikan sebagai pola sifat perilaku dari pimpinan unit kerja dalam merumuskan, mengorganisasikan, mengarahkan/ mengendalikan/memantau dan memecahkan masalah. Terdapat dua komponen utama dalam gaya kepemimpinan yaitu apa yang menjadi prioritas pimpinan serta bagaimana sikapnya saat membuat keputusan. Sedangkan budaya organisasi didefinisikan sebagai nilai-nilai dan norma bersama bersama dari SDM di dalam organisasi.

Badan POM harus mampu beradaptasi dengan perkembangan lingkungan strategis agar tidak hanya dapat bertahan hidup tapi bahkan semakin kuat. Untuk itu, perlu dilakukan intervensi terhadap aspek-aspek internal organisasi. Biro Perencanaan dan Keuangan memiliki tugas dan tanggungjawab untuk memperkuat aspek strategi, struktur, sistem dan budaya kerja. Namun yang terkait langsung dengan indikator output akan difokuskan pada aspek struktur, sistem dan budaya kerja.

 

Upaya perkuatan organisasi - aspek kelembagaan

Seperti diketahui bahwa, Obat dan makanan merupakan unsur penting dalam pencapaian derajat kesehatan yang optimal. Dengan pertimbangan derajat kesehatan yang optimal inilah, Badan POM menyusun peta strategi.
Sesuai dengan peta strategi Badan POM, pengawasan Obat dan Makanan sekaligus mempunyai dua outcome, yaitu : (1) terlindunginya masyarakat dari Obat dan Makanan yang Tidak Memenuhi Syarat, yang didukung dengan outcome antara meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan dan menurunnya Obat dan Makanan yang Tidak Memenuhi Syarat serta (2) meningkatnya daya saing, terkait dengan pelayanan publik Badan POM yang juga merupakan upaya permberdayaan Badan POM kepada pelaku usaha. Dengan dua outcome tersebut, pengawasan obat dan makanan merupakan satu area dan upaya strategis karena selain berdampak pada perlindungan konsumen, juga merupakan unsur penting dalam meningkatkan daya saing mutu produk di pasar lokal maupun global.

Menyadari peran pengawasan obat dan makanan yang strategis sebagai unsur penting dalam arus tengah dari agenda prioritas pembangunan, maka sewajarnyalah bila efektifitas kerja Pemerintah di bidang penyelenggaraan program ini, harus dipastikan berdaya-ungkit besar dan cost effective. Untuk itu, Indonesia perlu memiliki suatu Badan Pengawas Obat dan Makanan yang inovatif, kredibel dan diakui secara internasional, yang dengannya, Badan POM mampu melindungi masyarakat sekaligus meningkatkan daya saing dan menumbuhkan perekonomian. Dengan demikian, dan mau tidak mau, Badan POM harus terus berevolusi untuk dapat secara adekuat merespon perkembangan ancaman maupun peluang dunia.

Disadari bahwa tugas-tugas yang dihadapi oleh Badan POM akan semakin luas dan kompleks. Ekspektasi publik ke pada Badan POM akan terus meningkat dalam rangka mendapatkan perlindungan yang efektif, sementara secara organisasi (kelembagaan, sistem, struktur, perilaku/budaya kerja), Badan POM masih sangat terbatas dibandingkan dengan ruang lingkup maupun cakupan tugas yang terus berkembang. Keterbatasan organisasi ini telah mendorong Badan POM untuk terus meningkatkan efisiensi dan efektifitas dalam penyelenggaraan seluruh program yang ada.

Sehubungan dengan ini, terus dilakukan perubahan dalam hal pola pikir (mind set) sumberdaya manusia maupun tata laksana kerja di Badan POM. Di sisi kelembagaan, sampai saat ini, secara struktur, semua fungsi pengawasan dapat dilakukan oleh Badan POM. Perubahan struktur organisasi belum menjadi sesuatu yang krusial. Namun untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan Badan POM, perlu dilakukan revitalisasi peran dan fungsinya. Diharapkan dengan revitalisasi peran dan fungsi, akan dihasilkan pencapaian kinerja pengawasan obat dan makanan yang lebih selaras dengan tuntutan peran maupun tantangan sebagaimana disebutkan di atas. Upaya revitalisasi telah dilakukan mulai tahun 2010 dengan menumbuhkan embrio konsep yang dikenalkan pada rapat kerja nasional. Tahun 2011, dilakukan finalisasi konsep beserta tools assessment untuk menilai kinerja Balai Besar/Balai POM. Disadari bahwa revitalisasi ini membutuhkan kuatnya kepemimpinan, oleh karenanya, dilakukan pembinaan seluruh Balai Besar/Balai POM oleh Pejabat Eselon I Badan POM. Pembinaan ini dilakukan sesuai pedoman pembinaan.

Tahun 2012 sampai 2014, merupakan tahun dimana upaya pemenuhan kompetensi dan sarana/prasarana Balai Besar/Balai POM, sehingga dapat diterapkan sistem reward dan punishment.

 

 





:: Foto Kegiatan ::

Visi dan Misi

Visi Badan POM
Menjadi Institusi
Pengawas Obat dan
Makanan yang Inovatif,
Kredibel dan Diakui
Secara Internasional
untuk Melindungi
Masyarakat.


Misi Badan POM
1. Melakukan
Pengawasan
Pre-Market dan
Post-Market Berstandar
Internasional.

2. Menerapkan Sistem
Manajemen Mutu Secara
Konsisten.

3. Mengoptimalkan
Kemitraan dengan
Pemangku Kepentingan
di Berbagai Lini.

4. Memberdayakan
Masyarakat agar
Mampu Melindungi
Diri dari Obat dan
Makanan Yang Berisiko
Terhadap Kesehatan.

5. Membangun
Organisasi Pembelajar
(Learning Organization).

Fungsi Badan POM

Fungsi Badan POM
1. Pengaturan, Regulasi,
dan Standardisasi.

2. Lisensi dan
Sertifikasi Industri
di Bidang Farmasi
Berdasarkan Cara-cara
Produksi yang Baik.

3. Evaluasi Produk
Sebelum Diizinkan
Beredar.

4. Post Marketing
Vigilance Termasuk
Sampling dan
Pengujian Laboratorium,
Pemeriksaan Sarana
Produksi dan Distribusi,
Penyidikan dan
Penegakan Hukum.

5. Pre-audit dan
Pasca-audit Iklan
dan Promosi produk.

6. Riset Terhadap
Pelaksanaan Kebijakan
Pengawasan Obat
dan Makanan.

7. Komunikasi, Informasi
dan Edukasi Publik
Termasuk Peringatan
Publik.

  Total Visits :
     ° 1 User Online
Best   viewed   with
IE 4.0 or later.
(1024 x 768 pixel)

SiteMap
Badan POM (NA-DFC)
Jl. Percetakan Negara No.23 - Jakarta 10560 Indonesia
Telp: (021) 4244691/42883309/42883462, Fax: (021) 4263333
Email: Informasi@pom.go.id
Copyright 2010 Badan Pengawas Obat dan Makanan - Indonesia.
All rights reserved.