ENGLISH

Home

About NA-DFC

INDONESIA 

Halaman Utama

Tentang Badan POM
    BADAN POM
Berita Aktual
Siaran Pers/Peringatan Publik
Peraturan
Brosur
Publikasi
    KOMODITI
Reformasi Birokrasi 
e-Registrasi 
Notifikasi Kosmetik Online
Daftar Antrian Elektronik
Produk Obat dan Produk Biologi
Produk OT, SM dan Kosmetik
Produk Pangan
ULPK
Informasi Obat
Informasi Keracunan
Obat Bahan Alam Ind
Sistem Keamanan Pangan Terpadu
    SPECIAL INTEREST
Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE)
Pengumuman Pengadaan Barang dan Jasa
Balai Besar / Balai POM
e-bpom - NSW
Perpustakaan
Web Mail BPOM
e-rekrutmen Badan POM
 
::  | |

 
 

UPAYA PERKUATAN ORGANISASI – ASPEK SISTEM DAN TATALAKSANA


Terkait dengan tatalaksana, Badan POM berupaya untuk memperbaiki tatalaksana yang selama ini sudah terbentuk dan dilaksanakan sesuai SOP tahun 2009. Upaya untuk sasaran tersebut telah dikembangkan sejak tahun 2009 secara selektif oleh unit kerja (per Unit Kerja/Balai Besar/Balai POM) dan dilanjutkan pada tahun 2010 pengembangan QMS Badan POM secara nasional.

QMS dijadikan ukuran, karena quality management systems - merupakan kebutuhan setiap organisasi tidak peduli apakah organisasi tersebut besar atau kecil dan type produk yang dihasilkannya. QMS mengharuskan suatu organisasi untuk mengupayakan persyaratan/ standar minimal sehingga mampu mencapai kepuasan pelanggan melalui penyediaan barang atau jasa yang konsisten sesuai dengan ekspektasi pelanggan. Termasuk di dalamnya upaya perbaikan berkelanjutan.

QMS adalah sistem yang memuat garis besar kebijakan dan prosedur yang diperlukan untuk meningkatkan dan mengontrol berbagai proses yang akhirnya akan menuju pada peningkatan business performance. QMS meliputi serangkaian elemen-elemen yang saling terkait dan berinteraksi yang mengarahkan dan mengontrol organisasi mengacu pada mutu. Oleh sebab itu, QMS diaplikasikan pada seluruh kegiatan dan unit dalam suatu organisasi.

Tujuan pelaksanaan QMS dalam suatu organisasi adalah untuk mengelola berbagai kegiatan dengan pendekatan yang sistematis dan secara berkesinambungan meningkatkan efektivitasnya sesuai dengan standar internasional yang mengutamakan kebutuhan-kebutuhan stakeholders.

Berdasarkan kajian, SOP yang dihasilkan tahun 2009, dinilai kurang mencerminkan proses yang terjadi di Badan POM. Oleh karena itu, mulai akhir 2010, sudah dilakukan pemetaan bisnis proses (business process map) Badan POM serta pemetaan keterkaitan unit kerja dan keterkaitan fungsi (relationship map dan cross functional map). Dengan 3 peta tersebut, dilakukan sinkronisasi SOP. Berdasarkan definisi operrasional SOP Badan POM maka SOP adalah suatu prosedur yang menghubungkan antar unit kerja dalam menjalankan suatu fungsi tertentu. Karenanya, proses di dalam unit kerja tidak dimasukkan dalam SOP tetapi dimasukkan dalam IK baik IK internal maupun IK eksternal.
Dengan dilengkapinya dokumen level I (manual mutu), dokumen level II (SOP), dokumen level III (IK) serta dokumen level IV (format, dll) maka, Badan POM siap menerapkan sistem manajemen mutu (QMS) dengan standar ISO 9001-2008 pada Oktober 2011. Direncanakan sertifikasi ISO 9001:2008 akan dilakukan pada awal tahun 2012.

Namun proses perbaikan tatalaksana, tidak hanya terjadi dengan ISO 9001:2008. Di bidang pengujian, saat ini seluruh laboratorium Badan POM sudah mendapatkan sertifikasi standar internasional, yaitu ISO 17025. Ke depan, Badan POM berupaya untuk menjadi laboratorium rujukan di tingkat regional. Selain itu, laboratorium Badan POM pun secara rutin diassess oleh WHO, dan hasil assess terakhir yang dilakukan di tahun 2008 bernilai 97 dari 100.

Di bidang pengawasan pasca peredaran (post market vigilance), Badan POM berupaya untuk menjadi anggota dalam organisasi internasional pengawasan Obat dan Makanan, untuk proses inspeksi – PIC/s (Pharmaceutical Inspection Cooperation Scheme). Pada tahun 2011 telah dilakukan audit oleh PIC/s. Direncanakan tahun 2012, Badan POM resmi menjadi anggota organisasi tersebut.

Seluruh prosedur, proses yang terangkai dalam tatalaksana, ditingkatkan dengan dukungan IT. Badan POM telah membangun dan mengembangkan sistem pelaporan terpadu terkait pemeriksanan dan pengujian (SIPT). Di tahun 2010 Badan POM juga telah membangun konsep e-document dan e-archive.

Tahun 2011 merupakan penerapan prototype sistem informasi yang dikenbangkan dan direncanakan di tahun 2012 dan seterusnya akan terus diterapkan sistem yang sudah dibangun serta dikembangkan ke arah yang lebih baik.


 





:: Foto Kegiatan ::

Visi dan Misi

Visi Badan POM
Menjadi Institusi
Pengawas Obat dan
Makanan yang Inovatif,
Kredibel dan Diakui
Secara Internasional
untuk Melindungi
Masyarakat.


Misi Badan POM
1. Melakukan
Pengawasan
Pre-Market dan
Post-Market Berstandar
Internasional.

2. Menerapkan Sistem
Manajemen Mutu Secara
Konsisten.

3. Mengoptimalkan
Kemitraan dengan
Pemangku Kepentingan
di Berbagai Lini.

4. Memberdayakan
Masyarakat agar
Mampu Melindungi
Diri dari Obat dan
Makanan Yang Berisiko
Terhadap Kesehatan.

5. Membangun
Organisasi Pembelajar
(Learning Organization).

Fungsi Badan POM

Fungsi Badan POM
1. Pengaturan, Regulasi,
dan Standardisasi.

2. Lisensi dan
Sertifikasi Industri
di Bidang Farmasi
Berdasarkan Cara-cara
Produksi yang Baik.

3. Evaluasi Produk
Sebelum Diizinkan
Beredar.

4. Post Marketing
Vigilance Termasuk
Sampling dan
Pengujian Laboratorium,
Pemeriksaan Sarana
Produksi dan Distribusi,
Penyidikan dan
Penegakan Hukum.

5. Pre-audit dan
Pasca-audit Iklan
dan Promosi produk.

6. Riset Terhadap
Pelaksanaan Kebijakan
Pengawasan Obat
dan Makanan.

7. Komunikasi, Informasi
dan Edukasi Publik
Termasuk Peringatan
Publik.

  Total Visits :
     ° 1 User Online
Best   viewed   with
IE 4.0 or later.
(1024 x 768 pixel)

SiteMap
Badan POM (NA-DFC)
Jl. Percetakan Negara No.23 - Jakarta 10560 Indonesia
Telp: (021) 4244691/42883309/42883462, Fax: (021) 4263333
Email: Informasi@pom.go.id
Copyright 2010 Badan Pengawas Obat dan Makanan - Indonesia.
All rights reserved.